Golkar Berpotensi Rugi Besar Ditinggal Appi, Musjaya Soroti Jaringan Politik Sang Wali Kota yang Mengakar
MAKASSAR — Keputusan Munafri Arifuddin alias Appi meninggalkan Partai Golkar dinilai bukan sekadar kehilangan kader, tetapi juga berpotensi menjadi kerugian politik bagi partai berlambang pohon beringin tersebut.

Pengamat politik Musjaya menilai Appi merupakan salah satu figur yang memiliki jaringan politik kuat dan mengakar, khususnya di Sulawesi Selatan. Modal politik tersebut tidak terbentuk dalam waktu singkat sehingga kepergian Appi dinilai memiliki konsekuensi tersendiri bagi Golkar.
Menurut Musjaya, Appi telah memiliki pengalaman politik sekaligus basis dukungan yang cukup luas. Kondisi itu membuat posisi Appi berbeda dengan kader yang hanya mengandalkan struktur partai.
“Pak Appi punya jaringan politik yang mengakar,” demikian pandangan Musjaya sebagaimana diberitakan Media Sahabat.
Ia menilai jaringan politik yang dimiliki Appi merupakan aset penting dalam kontestasi politik. Jaringan tersebut terbentuk melalui pengalaman, relasi dan keterlibatan Appi dalam berbagai dinamika politik di Sulawesi Selatan.
Karena itu, keputusan Appi untuk tidak lagi berada di bawah bendera Golkar dinilai dapat memberikan dampak strategis bagi peta politik ke depan.
Sebaliknya, partai politik yang nantinya menjadi rumah baru Appi justru berpeluang mendapatkan keuntungan besar. Partai tersebut tidak harus memulai pembangunan jaringan dari nol karena Appi telah membawa modal politik yang relatif kuat.
“Kalau ada partai yang kemudian menerima Pak Appi, tentu akan mendapatkan keuntungan karena jaringan politiknya sudah terbentuk,” kata Musjaya.
Figur Appi juga dinilai memiliki daya tawar tersendiri setelah berhasil memenangkan Pilkada Makassar dan kemudian dipercaya memimpin Kota Makassar.
Dengan pengalaman tersebut, Appi bukan hanya memiliki posisi sebagai kepala daerah, tetapi juga mempunyai modal politik yang dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai agenda politik mendatang.
Musjaya melihat perpindahan Appi berpotensi mengubah konfigurasi kekuatan politik di Sulsel. Apalagi, dinamika politik daerah sangat dipengaruhi oleh kekuatan figur dan jaringan yang mereka miliki.
Bagi Golkar, kehilangan Appi berarti harus menghadapi tantangan baru dalam mempertahankan pengaruh dan konsolidasi politik, khususnya di wilayah yang selama ini menjadi basis kekuatan partai.
Sementara bagi Appi, langkah keluar dari Golkar membuka ruang politik baru. Ke mana pun arah politiknya, kehadiran Appi berpotensi menjadi magnet bagi kekuatan politik yang ingin memperluas basis dukungan di Sulawesi Selatan.
Dengan demikian, keputusan Appi meninggalkan Golkar tidak hanya “menggoyang” mental pengurus internal partai berwarna kuning itu, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peta politik Sulsel ke depan.














