Banner Promo

PAKABAJI SD Inpres Maccini Jadikan Kreativitas Kelas sebagai Sumber Belajar Guru

MAKASSAR — Kreativitas manajemen kelas di UPTD SPF SD Inpres Maccini Kota Makassar tidak berhenti pada upaya mempercantik ruang belajar. Melalui inovasi PAKABAJI, kreativitas guru diubah menjadi sumber belajar bersama untuk membangun budaya kolaborasi, refleksi, dan peningkatan kompetensi guru.

RS Daya MKSR

PAKABAJI merupakan akronim dari Pendampingan Kreativitas Berbasis Jigsaw. Inovasi ini dirancang agar guru tidak hanya menjadi pelaksana pembelajaran, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan bagi rekan sejawat melalui praktik nyata yang dilakukan di kelas.

Program tersebut mulai direncanakan sejak Juni 2026, kemudian berproses pada Juli, dilaksanakan pada Agustus, dan memasuki tahap tindak lanjut sejak September hingga saat ini memasuki tahap penilaian oleh tim penilai internal yang dibentuk sebelumnya.

Kepala UPTD SPF SD Inpres Maccini, Baharuddin, S.Pd., M.Pd., mengatakan PAKABAJI lahir dari kebutuhan untuk menjadikan persoalan dan kreativitas di ruang kelas sebagai bagian dari proses pengembangan profesional guru.

“Kami tidak ingin kreativitas guru berhenti pada satu kelas atau hanya menjadi bagian dari sebuah lomba. Setiap kreativitas harus bisa menjadi sumber belajar bagi guru lainnya,” kata Baharuddin,  kamis (24/09/2026).

Menurutnya, lomba kreativitas kelas dalam PAKABAJI bukan tujuan akhir. Kegiatan tersebut menjadi pemantik agar guru berani menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, edukatif, kreatif, dan sesuai kebutuhan murid.

“Lomba menjadi pemantik perubahan, TUDANG SIPULUNG menjadi ruang refleksi, dan Jigsaw menjadi mekanisme berbagi. Tujuan akhirnya adalah guru yang terus belajar dan sekolah yang terus berkembang,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, sekolah memberikan dukungan Rp500 ribu untuk setiap kelas melalui dana BOS. Kreativitas kelas dinilai berdasarkan sejumlah indikator, seperti kebersihan, kenyamanan, estetika, pajangan edukatif, pemanfaatan ruang sebagai sumber belajar, keterlibatan murid, inovasi pembelajaran, kolaborasi, dan keberlanjutan.

Setelah proses penilaian, guru mengikuti TUDANG SIPULUNG untuk merefleksikan praktik yang telah dilakukan. Guru membahas keberhasilan, kekurangan, tantangan, solusi, serta praktik yang dapat dibagikan kepada rekan sejawat.

Melalui metode Jigsaw, guru yang memiliki praktik tertentu menjadi bagian dari kelompok ahli dan kemudian membagikan pengalaman tersebut kepada guru lainnya. Praktik baik tidak sekadar ditiru, tetapi disesuaikan dengan karakteristik kelas dan kebutuhan murid.

“Masalah yang ditemukan di kelas tidak kami lihat hanya sebagai kekurangan. Justru dari situ guru belajar, berefleksi, berbagi, lalu memperbaiki praktiknya,” tutur Baharuddin.

PAKABAJI diharapkan memperkuat budaya belajar di lingkungan sekolah. Guru semakin berani berkreasi, terbiasa berbagi praktik baik, dan memiliki ruang untuk melakukan refleksi.

Bagi murid, dampaknya terlihat dari lingkungan kelas yang lebih nyaman dan edukatif. Sementara bagi sekolah, PAKABAJI menjadi upaya membangun ekosistem pembelajaran yang bergerak dari kelas, praktik, refleksi, berbagi, adaptasi, hingga perbaikan berkelanjutan.

“Guru belajar dari guru, dan kelas menjadi sumber belajar,” pungkas Baharuddin.

Bapenda

Dispora MKSR

Dispora MKSR

Pemkot Palopo

Pemkab Luwu

Pemkab Lutra

DPRD Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *