Aksi Bakar Ban Demo PDAM Palopo Dinilai Ganggu Pelayanan Dasar Warga, Akhirnya Dibubarkan Paksa
PALOPO – Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Mangkaluku (TM) Palopo, Steven Hamdani, angkat bicara terkait aksi unjuk rasa mahasiswa yang berujung ricuh di kantor PDAM Palopo.

Kericuhan terjadi setelah sejumlah pengunjuk rasa terlibat ketegangan dengan pegawai PDAM di area kantor Perumda TM Palopo.
Steven menyayangkan aksi demonstrasi yang diwarnai pembakaran ban bekas.
Menurutnya, tindakan tersebut justru berdampak pada pelayanan masyarakat, terutama distribusi air bersih menggunakan mobil tangki.
Ia mengatakan, asap pembakaran ban mengganggu aktivitas pelayanan administrasi warga. Selain itu, kobaran api juga berpotensi membahayakan kendaraan operasional PDAM maupun kendaraan masyarakat yang melintas di sekitar kantor.
Steven menjelaskan, pihak PDAM sebenarnya telah mengatur jadwal pelayanan agar tidak berbenturan dengan aksi demonstrasi.
Bahkan, manajemen telah berkoordinasi dengan tim satuan tugas (Satgas) untuk menghentikan sementara pelayanan pada pukul 14.00 Wita, sesuai waktu aksi yang tercantum dalam surat pemberitahuan.
Namun, massa justru mulai menggelar demonstrasi sekitar pukul 11.00 Wita.
”Pelayanan distribusi air bersih kepada masyarakat sudah kami atur jadwalnya. Kami juga telah berkoordinasi dengan Satgas PDAM untuk menghentikan sementara pelayanan pukul 14.00 Wita guna menerima aksi unjuk rasa. Namun, massa justru datang dan melakukan aksi sekitar pukul 11.00 Wita,” ungkap Steven.
Ia menuturkan, pembakaran ban tersebut sempat mendapat teguran dari sejumlah pegawai PDAM dan anggota TNI yang berada di lokasi.
Mereka meminta massa memadamkan api agar mobil tangki tetap bisa keluar dari area kantor untuk mendistribusikan air bersih kepada warga yang membutuhkan.
Sayangnya, permintaan tersebut tidak mendapat respons dari pengunjuk rasa.
Ketegangan semakin meningkat ketika satu unit mobil tangki PDAM hendak meninggalkan kantor.
Sejumlah demonstran diduga mencoba menghalangi kendaraan tersebut.
Petugas keamanan (security) PDAM yang berusaha mencegah penghalangan itu juga disebut mendapat perlakuan tidak layak dari pengunjuk rasa.
Situasi tersebut kemudian memanas hingga terjadi perselisihan antara sejumlah pegawai PDAM dan massa aksi.
Steven menyebut, salah satu hal yang disayangkan dari aksi tersebut adalah terganggunya distribusi air bersih, padahal masyarakat sedang menghadapi dampak kemarau panjang.
”Kami sangat menyayangkan kejadian tersebut. Kami berharap semua pihak dapat menahan diri. Kami memahami bahwa air bersih merupakan kebutuhan utama masyarakat,” ujarnya.















