Banner Promo
Bapenda

Menguatkan Lansia di Era Modern melalui BELATI, Sekolah Lansia, dan SIDAYA

MAKASSAR — 02 Februari 2026 –  Tantangan di era modern tidak hanya dihadapi oleh generasi muda. Kelompok lanjut usia (lansia) juga membutuhkan perhatian dan ruang untuk tetap berkembang, beraktivitas, serta berkontribusi di tengah masyarakat.

RS Daya MKSR

Upaya pemberdayaan lansia kini dilakukan melalui berbagai inovasi, di antaranya BELATI (Beranda Lansia Produktif), Sekolah Lansia, dan SIDAYA (Lansia Berdaya). Ketiga pendekatan tersebut memiliki semangat yang sama, yakni mendorong lansia agar tetap sehat, aktif, mandiri, produktif, dan memiliki kehidupan yang bermakna.

BELATI merupakan salah satu inovasi yang dikembangkan untuk memberikan ruang bagi lansia agar tetap produktif. Pemerintah Kota Makassar memasukkan BELATI sebagai salah satu inovasi perubahan yang diluncurkan pada 2024. Kehadiran program tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan perhatian yang lebih luas terhadap potensi dan kebutuhan masyarakat lanjut usia.

Tidak hanya mendapatkan pelayanan, lansia juga didorong untuk menjadi bagian aktif dalam kehidupan sosial. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki dapat terus dimanfaatkan untuk keluarga maupun lingkungan sekitar.

Sekolah Lansia, Ruang Belajar Sepanjang Hayat

Semangat pemberdayaan tersebut semakin diperkuat melalui Sekolah Lansia. Program ini menjadi wadah bagi lansia untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sekaligus membangun interaksi sosial.

Pembelajaran di Sekolah Lansia dapat mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan fisik dan mental, aktivitas sosial, spiritualitas, hingga keterampilan yang mendukung kemandirian lansia.

Sekolah Lansia juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertemu, berdiskusi, dan melakukan berbagai aktivitas bersama. Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga dapat membantu menjaga hubungan sosial dan mengurangi rasa kesepian pada usia lanjut.

Konsep belajar sepanjang hayat menjadi penting karena bertambahnya usia bukan berarti berhentinya proses belajar. Lansia tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru dan mengembangkan kemampuan sesuai dengan kondisi serta minat masing-masing.

SIDAYA Dorong Lansia Tetap Berdaya

Sementara itu, SIDAYA (Lansia Berdaya) menjadi salah satu pendekatan pemberdayaan yang mendorong terwujudnya lansia sehat, aktif, produktif, dan sejahtera.

SIDAYA menempatkan lansia sebagai individu yang memiliki potensi. Pemberdayaan dilakukan dengan memperhatikan berbagai dimensi kehidupan, seperti kesehatan fisik, emosional, spiritual, intelektual, sosial, profesional atau vokasional, serta lingkungan.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan lansia tidak cukup hanya dilihat dari aspek kesehatan. Lansia juga membutuhkan kesempatan untuk bersosialisasi, mendapatkan dukungan keluarga, mengembangkan potensi, serta tetap merasa dihargai dan dibutuhkan.

Kolaborasi Jadi Kunci

Penguatan program lansia membutuhkan dukungan berbagai pihak. Pemerintah, keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, lembaga pendidikan, serta masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang ramah terhadap lansia.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Makassar, Andi Irwan Bangsawan, mengatakan bahwa pemberdayaan lansia harus diarahkan pada upaya membangun kemandirian dan mempertahankan peran lansia di tengah keluarga maupun masyarakat.

“Lansia tidak boleh kita lihat hanya sebagai kelompok yang membutuhkan pelayanan. Mereka memiliki pengalaman, pengetahuan, dan potensi yang tetap bisa dikembangkan. Karena itu, pendekatan kita harus bergeser dari sekadar pembinaan menjadi pemberdayaan,” ujar Andi Irwan Bangsawan.

Menurutnya, BELATI, Sekolah Lansia, dan SIDAYA merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang yang lebih luas bagi lansia untuk tetap belajar, bersosialisasi, menjaga kesehatan, serta mengembangkan potensi yang dimiliki.

“Melalui BELATI, Sekolah Lansia, dan SIDAYA, kita ingin memastikan bahwa lansia tetap memiliki ruang untuk berkegiatan dan berkontribusi. Usia bukan menjadi batas untuk belajar dan berkarya. Yang terpenting adalah bagaimana kita menciptakan lingkungan yang mendukung agar mereka tetap sehat, mandiri, produktif, dan merasa dihargai,” jelasnya.

Keluarga menjadi salah satu faktor utama karena sebagian besar aktivitas lansia berlangsung di lingkungan keluarga. Dukungan emosional, perhatian, serta kesempatan untuk tetap beraktivitas dapat membantu lansia menjalani masa tua secara lebih percaya diri.

Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat perlu terus menghadirkan program yang memberikan ruang bagi lansia untuk berpartisipasi. Kegiatan yang bersifat edukatif, sosial, kesehatan, maupun produktif dapat menjadi sarana untuk menjaga kualitas hidup mereka.

Melalui DPPKB Kota Makassar, penguatan inovasi BELATI, Sekolah Lansia, dan SIDAYA diharapkan mampu mendorong perubahan cara pandang terhadap kelompok lanjut usia. Lansia tidak lagi hanya dipandang sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi sebagai bagian masyarakat yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan potensi untuk terus berkontribusi.

“Yang kita bangun bukan hanya program untuk lansia, tetapi ekosistem yang ramah lansia. Pemerintah, keluarga, dan masyarakat harus berjalan bersama agar masa lanjut usia dapat dijalani dengan sehat, bermartabat, mandiri, dan tetap memiliki makna,” kata Andi Irwan.

Menguatkan lansia berarti membangun masyarakat yang lebih inklusif. Sebab, masa lanjut usia bukanlah akhir dari produktivitas, melainkan fase kehidupan yang tetap dapat diisi dengan belajar, berkarya, bersosialisasi, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Dispora MKSR

Dispora MKSR

Pemkot Palopo

Pemkab Luwu

Pemkab Lutra

DPRD Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *